Sabtu, 03 November 2018

Ok Google, Kamu Pintar! Dulu Sekolah Dimana?

Apa bedanya berguru lewat google dengan sekolah formal? Mana lebih efektif? Sebelum menjawab pertanyaan menggelitik tersebut, coba baca tanya jawab singkat antara seorang anak muda dengan eyang Gaul berikut ini.
Anak muda: Kenapa kita harus mencari ilmu di sekolah? Bukankah di Google sudah banyak tersedia gratis? Lebih lengkap lagi. Mau tanya ilmu apa aja, doi bisa menemukan jawabannya
: Maaf ya, coba kau tanya pada Google, dulu beliau sekolahnya di mana?
Membandingkan google dengan sekolah mungkin bagi sebagian orang ialah hal yang konyol. Sama kayak saya yang menulis artikel berjudul: “oke google! Kamu kok pinter banget sih? Dulu sekolah dimana?” atau curhatan, keluhan dan pertanyaan kocak dari orang-orang iseng di kotak pencarian. Contohnya:
  • Halo google, dimana jodoh saya?
  • Mbah gugel, sirahku ngelu, saya kudu piye? (kata-kata bahasa Jawa yang artinya: Mbah Google, kepalaku pusing, saya harus bagaimana?
  • Oke google, kau kan sudah 19 tahun, udah punya pacar belum?
Apa bedanya berguru lewat google dengan sekolah formal Ok Google, Kau Pintar! Dulu Sekolah Dimana?
Gokilnya, Google sama sekali tidak murka dipanggil mbah meski umurnya masih sangat muda. 27 september 2017 kemarin gres merayakan ultahnya yang ke 19. Dengan sabar beliau menjawab semua pertanyaan iseng tersebut. Terlepas jawabannya nyambung atau tidak, yang terang doi berusaha keras menampilkan semua artikel dan info yang dicari orang. Mungkin itu yang jadi dasar pemikiran bahwa selagi masih ada internet, sekolah tidak penting

Google Menggantikan Peran Pendidikan Formal?

Ilmu bisa dipelajari dari mana saja dan diberikan oleh siapa saja, bahkan di kawasan gelap oleh penjahat sekalipun. Tapi ilmu yang bisa dipertanggung-jawabkan manfaat positifnya, ada di tangan guru-guru di sekolah atau dosen di universitas

Artinya: Ilmu itu banyak jenisnya. Ada yang bersifat konkret dan negatif. Untuk bisa mencuri, merampok, menjambret tanpa tertangkap juga butuh ilmu. Dan untuk mempelajari itu mungkin tingkat kesulitannya sama atau bahkan lebih sulit dibanding dengan berguru matematika. Nah, untuk mengarahkan bawah umur berguru ilmu yang positif, kawasan terbaik ialah di sekolah. Itulah sebabnya orang bau tanah tidak membiarkan kita para muda-mudi impian bangsa tersesat jalan mempelajari hal-hal terlarang.

Apalagi di kala “googelisasi” ketika ini. Dimana arus informasi seolah tidak terbendung, butuh filter guna menyaring mana informasi yang benar dan mana yang menjerumuskan. Mana yang memberi manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain dan mana yang justru menghancurkan. Dan para remaja yang masih gamang menghadapi masa peralihan dari bawah umur menuju dewasa, tidak semuanya bisa memilah mana yang baik dan yang buruk.

Tau sendiri kan, meskipun menkominfo telah melancarkan kampanye internet positif, sudah memblokir banyak situs berkonten negatif, tetap saja ada celah. Dengan mendownload software atau aplikasi tertentu, situs-situs tersebut bisa diakses dengan mudah. Itulah pola sikap oknum remaja nakal, dihentikan malah penasaran. Parah!

Apakah google tidak manis untuk anak sekolah?

Ya bukan begitu juga keles. Sudah sering dibahas kan jikalau internet itu menyerupai golok? Di tangan Jaka Sembung, golok bermanfaat untuk menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan. Tapi di tangan si orang jahat, golok akan sangat berbahaya. Begitu juga dengan google (baca: internet), akan memberi manfaat atau sebaliknya tergantung dari siapa dan untuk tujuan apa.

Kalau tujuannya untuk browsing memperkaya ilmu pengetahuan, pastinya mempunyai kegunaan bagi dunia pendidikan. Tapi jikalau tujuannya untuk mengembangkan fitnah, hoax guna memecah belah bangsa, tentu sangat berbahaya

Nah, tugas orang bau tanah dan para guru di sekolah inilah yang diperlukan supaya para remaja bisa memilah mana yang baik dan buruk. Makara antara sekolah dengan google merupakan dua pihak yang saling bersinergi dalam mendidik generasi muda.

Pelajaran yang belum diajarkan di institusi pendidikan formal, bisa didapatkan di dunia online. Keteladanan yang tidak bisa diekspresikan di internet, bisa dilihat dari pola sikap dan sikap para pendidik. Intinya saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tidak ada yang melarang kita internetan, browsing, main game, chating dengan teman, selfie-selfiean, youtube-an... Karena itu sudah jadi potongan dari gaya hidup (life style) anak muda hits, gaul, kekinian atau apapun istilah untuk mengidentifikasikan remaja modern masa kini. Kami sebagai orang bau tanah tidak hendak merenggut dunia yang bikin kalian ceria. Sama sekali tidak! Percayalah, kami hanya ingin punya putra-putri yang mempunyai kegunaan bagi keluarga, bangsa dan agama!
Mau jadi anak gaul, silahkan! Tapi jadilah anak gaul yang cerdas dan membanggakan.
Baca juga: kebiasaan remaja pandai
Jika ada yang bertanya: google dulu sekolah dimana kok bisa pintar? Jawabnya, di SDN INPRES: Situs Dan Narasumber INtelektual PREStisius. Jika Google yang sekolah hingga di SDN Inpres aja bisa secerdas itu, harusnya kau yang udah SMP, Sekolah Menengan Atas dan kuliah bisa lebih smart. Rajin berguru ya gaes...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar